DENTANG PAK JAMJAM
Oleh : Eugenia Rakhma/Illustrasi : Lily Zhai
Pak Jamjam adalah
sebuah jam besar yang berdiri di Balai Kota Rajinta. Ia memiliki tugas penting,
yaitu mengatur kegiatan di kota Rajinta. Setiap pagi, Pak Jamjam berdentang
tepat pukul 5 pagi. Ia membangunkan penduduk kota Rajinta. Maka, tak ada yang
terlambat memulai aktivitasnya. Bekerja, bersekolah, memasak, ataupun membuka
toko.
Sepanjang hari, Pak
Jamjam berdentang. Ia menemani waktu makan siang penduduk Rajinta. Ia
berdentang mengingatkan waktu selesai bekerja di sore hari. Dan, saat malam
tiba, Pak Jamjam berdentang memastikan seluruh penduduk pergi tidur dan
mendapat cukup istirahat.
Suatu hari, mesin
di dalam tubuh Pak Jamjam rusak. Pak Jamjam hanya berdentang saat pukul 4 pagi! Ia berdentang
berulang-ulang. Memekakkan telinga seluruh penduduk Rajinta.
“Oh, bahkan hari
terlalu pagi untuk melakukan apapun!!” gerutu penduduk Rajinta mengantuk.
Pak Walikota pun
memanggil Pak Mekanik. Namun, Pak Jamjam tidak berhasil diperbaiki.
“Jam ini sudah
terlalu tua. Mur dan bautnya sudah berkarat. Bahkan diminyaki pun percuma saja.
Aku tidak bisa membuka kotak mesinnya,” kata Pak Mekanik sambil mengusap peluh
di kening.
Maka, Pak Jamjam
dipindahkan dari Balai Kota. Ia disimpan dalam gudang di sudut kota. Betapa
sedihnya hati Pak Jamjam! Ia merasa tidak berguna. Tubuhnya mulai dipenuhi
debu. Cat cokelat di tubuhnya mulai terkelupas oleh panas matahari.
Suatu pagi, Pak
Jamjam mendengar pintu gudang berderit terbuka. Pak Walikota memasuki gudang
bersama Pak Penasihat.
“Bapak yakin, akan
memberikan jam ini?” tanya Pak Penasihat.
Pak Walikota
terlihat bingung. “Aku harus bagaimana lagi? Penduduk kota memprotes keras. Jam
ini membangunkan mereka pagi sekali!”
“Tapi, Pak
Walikota, jam ini sudah berjasa sekali untuk Rajinta.”
“Itu dia,” Pak
Walikota mendesah, “Mereka mulai menganggap jam ini tak berguna lagi. Kau lihat
sendiri, Penasihat, kota Rajinta tumbuh dengan baik. Semua bangunan berdiri
kokoh. Tidak ada jalan yang rusak atau berlubang. Semua taman kota bersih terawat.
Bahkan, kau tidak akan menemukan sarang laba-laba di sini. “
Hening seketika.
Lalu, Pak Jamjam merasakan Pak Walikota menyentuhnya lembut.
“Jam ini telah
menemaniku membangun Rajinta selama bertahun-tahun. Ia adalah warisan
turun-temurun dari pendiri kota pertama. Rasanya berat untuk melepasnya …”
Tak lama kemudian,
datang 4 orang lelaki bertubuh besar. Pak Jamjam dinaikkan ke atas truk.
Tubuhnya dililit tali-temali. Dengan sedih, Pak Jamjam menatap kota Rajinta yang
semakin jauh dari pandangan. Ia merasa tua dan tak berguna.
Setelah cukup lama
terguncang-guncang, akhirnya truk berhenti juga. Pak Jamjam menatap
sekelilingnya. Ohlala! Ia berada di kota Malaski, kota tetangga Rajinta. Dan, oh,
alangkah berbedanya kota ini dengan Rajinta! Sepanjang Pak Jamjam memandang,
bangunan-bangunan berdiri miring dengan cat yang terkelupas. Jalan-jalan
berlubang. Tumpukan sampah terlihat di kiri-kanan jalan. Tumbuh-tumbuhan cokelat menunduk kekeringan. Bahkan, di beberapa rumah, Pak Jamjam melihat
penduduk yang masih tertidur di balik selimut!
Meski begitu, Pak
Jamjam bertekad tetap melaksanakan tugasnya. Hal itu membantu mengobati rasa
sedih di hatinya. Pukul 4 pagi, Pak Jamjam berdentang nyaring. Suaranya terdengar
sampai penjuru kota Malaski.
Membuat penduduk Malaski
melonjak dari tidur.
“Hei, suara apakah
itu?”
“Astaga, nyaring
sekali suaranya!”
Mereka membuka
jendela, mencari tahu asal suara tersebut. Udara pagi yang segar memasuki rumah.
Kantuk penduduk kota Malaski hilang
seketika.
“Selamat pagi,
selamat pagi!” sapa Pak Walikota Malaski
melihat kedatangan penduduknya. “Lihatlah jam baru ini! Ia akan membantu kita
memperbaiki kota!”
Pagi itu, mereka
mulai bekerja. Ada yang memperbaiki dan mengecat ulang bangunan. Ada yang
memperbaiki jalan rusak dan berlubang. Ada juga yang membantu menyiangi dan
menata taman-taman kota.
Beberapa bulan
kemudian, dentang pagi Pak Jamjam dan kerja keras penduduk membuahkan hasil.
Seluruh penduduk bersuka ria.
“Jam ini sangat
berguna! Berkatnya, kita terbiasa bangun pagi!” kata salah seorang penduduk.
Penduduk yang lain
menjawab setuju, “Ya, betapa indahnya kota kita sekarang!”
Sebagai bentuk
penghargaan, Pak Jamjam dipindahkan ke tengah kota. Dari sana, ia memerhatikan
penduduk yang melakukan kegiatannya sejak pagi dimulai. Bersekolah, bekerja, atau
membuka toko. Tak jarang, satu dua penduduk yang lewat menatapnya kagum dan
penuh rasa terima kasih. Berkat dentang Pak Jamjam, kini kota Malaski terkenal sebagai kota yang indah
juga makmur. Pak Jamjam sungguh gembira, ternyata ia tetap berguna!
***
