}

Cerpen



Kado Istimewa

Oleh: Siti Rumlayati, Illustrasi: Tanti Amelia 

           Fafa menatap sedih pada label harga yang tergantung pada boneka Angry Birds. Ia ingin membeli boneka itu untuk hadiah ulang tahun Chiara, sahabatnya. Harga boneka itu lima puluh ribu. Padahal uang di saku baju Fafa hanya dua puluh ribu.
           “Kalau yang lebih kecil ada nggak, Bu?” tanya Fafa pada Bu Asri, pemilik toko mainan itu.
            “Tidak ada lagi, Fa! Itu satu-satu boneka Angry Bird yang tersisa. Ibu belum sempat ke kota membelinya lagi,” jawab Bu Asri. “Kenapa tidak pilih boneka lain saja?”
            Fafa menggeleng. Ia tidak berniat membeli boneka lain, karena Chiara sangat suka tokoh kartun Angry Birds.
            “Baiklah Bu, lain kali saja,” Pamit Fafa, lalu keluar toko mainan Bu Asri.
           Fafa mengayuh pelan sepedanya menuju rumahnya. Ia bingung, harus kemana lagi mencari boneka Angry Birds. Hanya ada satu-satunya toko mainan Bu Asri, sedangkan kota jaraknya sangat jauh.
            Sesampai di rumah, Kak Dila menyambut Fafa.  “Lihat,hasil karyaku, Fa! Ini namanya lampion karakter. Bagus, kan?

           Fafa mengamati lampion kertas berbentuk Twetty di tangan kakaknya. “Bagus, Kak!” jawab Fafa datar.
           “Kalau kamu mau, nanti aku ajarin. Aku bisa membuat bermacam-macam karakter,” Kak Dila menawari Fafa.
          “Nanti saja, Kak! Aku mau mandi sore dulu,” Fafa lalu meninggalkan Kak Dila.

@@@
Esoknya Fafa pergi ke sekolah dengan membawa buku tabungan. Semalam ia sudah memutuskan, akan mengambil tabungannya di sekolah. Fafa akan membelikan Chiara boneka Angry Birds ukuran besar.
Namun Fafa harus kecewa.  Tabungannya tidak bisa diambil. Hari ini, Bu Dila yang memegang tabungannya sedang tidak masuk.
“Aduh, bagaimana, ya? Kalau tidak segera dibeli, nanti dibeli orang lain,” gumam Fafa.
“Hei, melamun saja!” tiba-tiba Chiara sudah berada di samping Fafa. “Kamu lagi memikirkan apa, Fa?”
“Eh, tidak kok, Chi!” jawab Fafa buru-buru. Ia tidak mungkin memberitahu pada Chiara. Nanti tidak kejutan lagi.
Sepulang sekolah, Fafa mengayuh sepedanya menuju toko mainan Bu Asri. Fafa tidak sengaja menemukan ide. Ia segera mengatakan maksudnya pada Bu Asri.
“Baik, Fafa! Akan Ibu simpankan boneka Angry Birds. Tapi ingat, ya! Besok sepulang sekolah, segera ke sini.”
Fafa lega sekali. “Baik, Bu! Terima kasih, Bu!”
@@@
Fafa mengayuh sekuat tenaga sepedanya. Ia harus segera sampai di toko mainan Bu Asri. Semoga belum ada yang membeli boneka Angry Birds itu, harap Fafa dalam hati.
Fafa segera menyandarkan sepedanya, begitu sampai di depan toko Bu Asri. Fafa bergegas masuk ke toko. Tampak Bu Asri sedang duduk di meja kasir.
“Bu, maaf saya terlambat! Tadi ada les tambahan, Bu!” kata Fafa terengah-engah.
Bu Asri mengangguk. “Iya, Fa! Ibu menunggumu sampai setengah dua. Ternyata kamu belum datang  juga. Jadi Ibu menjualnya.”
Fafa langsung lemas. Padahal sudah ada uang lima puluh ribu di saku seragam sekolahnya. Tapi sekarang sudah pukul tiga lewat . “Siapa yang beli, Bu?”
“Seorang wanita. Tapi Ibu tidak kenal. Kayaknya, bukan orang sini!” jawab Bu Asri. “Maaf ya, Fa! Ibu kira, kamu nggak jadi beli.”
“Iya, Bu! Tidak apa-apa,” Fafa lalu melangkah keluar toko. Fafa bertambah bingung. Besok Chiara ulang tahun.
@@@
Fafa ragu-ragu memasuki halaman rumah Chiara. Di tangannya, ada sebuah kado. Fafa terpaksa minta bantuan Kak Dila membuatkan kado untuk Chiara.
Semoga Chiara suka dengan kado sederhana ini, ucap Fafa dalam hati. Ia segera mengetuk pintu rumah Chiara.
Tidak lama, pintu rumah Chiara terbuka. “Eh, ada Fafa. Ayo, masuk!” sambut Chiara senang.
“Selamat ulang tahun, Chiara!” kata Fafa sambil memberikan kado pada Chiara. “Semoga kamu suka kadonya.”
“Wah, terima kasih, Fa!” Chiara membuka kado dari Fafa. “ Wah, lampion kertas Angry Bird. Keren, Fa!”
Fafa senang, karena Chiara suka dengan kado pemberiannya. “Sebenarnya aku malu, Chi! Kado itu sederhana sekali.”
“Tidak apa-apa, Fa! Aku suka ini, karena kamu membuatnya sendiri dan tidak dijual di toko. Yang penting, kamu tulus memberikan padaku.”
“Dibantu Kak Nila kok,” Fafa tersipu malu.
“O iya, Fa! Kemarin Bibiku datang dari Jakarta. Bibiku bawa banyak buku. Kita baca, yuk!” ajak Chiara.
“Asik.. tentu saja aku mau, Chi!” sorak Fafa.
Chiara mengajak Fafa ke kamarnya. Koleksi buku Chiara memang sangat banyak. Fafa betah seharian berada di kamar Chiara.
Saat memasuki kamar Chiara, mata Fafa langsung melihat sebuah boneka di atas tempat tidur Chiara. Fafa mengenal boneka itu.
“Chi, itu boneka Angry Birds darimana?” tanya Fafa.
Chiara tersenyum. “Oh, itu kado dari Bibiku juga.”
Oh.. jadi wanita yang membeli boneka Angry Birds itu, ternyata Bibinya Chiara, batin Fafa.
“Fa, kamu kok bengong saja? Jadi tidak membaca bukunya?”

“Eh, iya jadi, Chi!” jawab Fafa sambil melirik sekali lagi boneka Angry Birds di atas tempat tidur itu.
  
Baca lainnya >>