}

Dongeng




Mencari Merak jantan
Ditulis oleh Tethy Ezokanzo

Di kerajaan Biru Langit tinggallah dua orang bersaudara. Putra sulung bernama Pangeran Blubin. Tubuhnya tinggi tegap dan berwajah tampan. Sayangnya Pangeran Blubin ini malas belajar. Kerjanya hanya bersenang-senang. Ia paling suka berburu ke hutan. Tak heran, Pangeran Blubin sangat gesit dan kuat.
Sedangkan adiknya Pangeran Bluzar gemar belajar. Kerjanya sehari-hari  membaca buku. Pangeran Bluzar jarang keluar, ia lebih suka duduk di perpustakaan. Tak heran Pangeran Bluzar tahu banyak hal. Keduanya memang tidak pernah akur dan jarang terlihat bersama.
            Suatu hari mereka mengunjungi kerajaan Merah Jambu yang mengadakan pesta. Seluruh Pangeran dan Putri negara tetangga diundang. Mereka diperkenalkan dengan putri Raja Merah Jambu yaitu Putri Meerjan.
            “Wow. Cantik!” orang-orang berdecak kagum dengan kecantikan Putri Meerjan.
Seketika itu juga Pangeran Blubin dan Bluzar jatuh cinta.
Pangeran Blubin tanpa malu-malu menghampiri Putri Meerjan dan melamarnya. Di lain waktu, ternyata Pangeran Bluzar pun mengungkapkan isi hatinya lewat puisi yang indah.
Hal ini membingungkan Putri Meerjan dan Raja Merah Jambu.
“Aku tidak mau menyakiti mereka, mhh… bagaimana yah?” Putri Meerjan terus berpikir cara yang baik.
            Akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan lomba.
“Carikan seekor merak jantan untuk koleksi kebun binatangku,” kata Putri Meerjan yang senang memelihara binatang-binatang unik.
            Berangkatlah dua pangeran bersaudara itu ke negeri Hijau Toska. Konon di sana terdapat banyak burung merak dari berbagai jenis.
“Seperti apa sih merak jantan itu?” kata Pangeran Blubin bingung. “Tapi aku pasti mendapatkannya. Aku kan sering berburu.”
Pangeran Bluzar juga segera menuju hutan, ia tahu persis seperti apa merak jantan itu. Ia segera menyergap merak jantan berbulu hijau.
“Gedubrak!”  ia malah tersandung.
Pangeran Bluzar terus mengejar merak jantan, namun selalu kalah gesit. Akhirnya ia kelelahan dan memutuskan untuk kembali esok saja.
            Di tengah jalan, Pangeran Bluzar berjumpa Pangeran Blubin yang berjalan dengan pongah menenteng seekor burung merak bertubuh kecil dan berwarna abu-abu.
“Muwahaha!” Pangeran Bluzar tertawa nyaring.
“Kenapa tertawa? Lihat! Aku berhasil kan?” Pangeran Blubin menatap adiknya.
            Pangeran Bluzar tertawa geli, “Aduh Kak, itu bukan merak jantan!”
“Oh ya?” Pangeran Blubin garuk-garuk kepala.
“Itu merak betina. Merak jantan tuh bulunya jauh lebih indah,” jelas Pangeran Bluzar.
“Loh kok bisa begitu? Bukankah betina yang lebih cantik?” Tanya Pangeran Blubin.
“Makanya, banyak baca buku dong.” Kata Pangeran Bluzar. “Ini namanya dimorfisme atau perbedaan antara jantan dan betina. Pada kebanyakan hewan terutama spesies burung, yang lebih cantik itu jantannya. Nah, yang bulunya seperti kipas mengembang itu jantannya yang memiliki sayap indah untuk menarik perhatian betina.”
            Pangeran Blubin mengangguk-angguk. Ia menyesal selama ini kurang membaca buku.
“Ayolah aku antar,” ajak Pangeran Bluzar.
Dalam sekejab, Pangeran Blubin berhasil menangkap merak jantan.
            “Ini untukmu,” kata Pangeran Blubin sambil menyerahkan merak jantan berbulu biru yang sangat indah. Jika mengembangkan sayapnya, terlihat rangkaian sayap biru dengan kuncup hijau metalik yang kerlap-kerlip. Jambulnya pun indah berwarna biru dan putih.
“Wah terimakasih,” seru Pangeran Bluzar.
“Ini merak India atau Pavo cristatus. Tentu Putri Meerjan akan senang menerima burung menakjubkan ini.”
“Dan yang hijau ini untukku,” Pangeran Blubin menunjukan seekor merak jantan berbulu hijau. Ekornya terlihat panjang menjuntai ke tanah karena burung tersebut sedang menutup kipasnya. Bulu-bulu keemasan terlihat seperti totol-totol di atas bulu hijaunya yang mengkilap. Merak hijau milik Pangeran Blubin lebih besar dari burung merak Pangeran Bluzar.
“Wow, indah sekali. Kakak hebat dapat menangkap dua merak dalam waktu sekejap,” puji Pangeran Bluzar.
“Merakku ini apa namanya?” tanya Pangeran Blubin
“Haha, takut ditanya Putri yah?” goda Pangeran Bluzar.
Pangeran Blubin tersipu malu.
“Namanya Pavo muticus. Burung ini bisa terbang, walau badannya besar,” jelas Pangeran Bluzar.
Pangeran Blubin takjub pada burungnya, “Oh ya?”
“Yup. Tapi tidak tinggi-tinggi amat sih, hanya sampai atas pohon agar dapat berlindung. Sayang, burung merak hijau ini sudah langka.”
“Wah, kita salah dong sudah menangkap mereka,” Pangeran Blubin merenung.
“Betul. Makanya aku kurang suka melihat Kakak berburu hanya untuk kesenangan. Tapi kalau Putri Meerjan kan memang sengaja menangkarkan hewan-hewan supaya mereka tetap lestari.”
            Keduanya kemudian kembali ke kerajaan Merah Jambu dengan bergandengan.
“Wow, keduanya indah,” sambut Putri Meerjan.
“Tak apa, ambil saja dua-duanya. Kami sudah tidak mau berlomba lagi,” Pangeran Blubin tertawa riang.
Pangeran Bluzar mengangguk. Ia berjanji akan memperlihatkan buku-buku pada kakaknya. Begitu juga Pangeran Blubin berencana mengajarkan cara berburu pada adiknya, tentunya hewan yang boleh ditangkap untuk dimakan. Dengan bimbingan Pangeran Bluzar, Pangeran Blubin berjanji akan ikut menjaga kelestarian alam. Mereka pun mengajak Putri Meerjan, si penyayang binatang. Putri Meerjan sangat  senang, sekarang ia mendapat teman dua pangeran yang cerdas dan gesit.

Adik-adik, kenalan dulu yuk dengan kak Tethy Ezokanzo. Kak Tethy tinggal di Bandung bersama 4 teman kalian yang lucu-lucu Thoriq, Hasan, Sahira dan Raihana. Kak Tethy sudah menulis lebih dari 50 buku, terutama buku anak. Diantaranya: Misteri Terung Ajaib (Talikata), Rukun Islam (Bhuana Ilmu Populer) dan Muhammad Nabiku (Kautsar For Kids). Selain itu banyak novel dan cerpen dewasa yang sudah ditulis kak Tethy. Beberapa artikelnya juga sering menghias majalah, diantaranya serial Go Green Generation, yang terbit setiap bulan di majalah Bravo. Kalau mau kenalan lebih jauh, kunjungi blognya: http://ezokanzo.blogdetik.com


BACA CERITA LAINNYA