TRAGEDI MERICA
Hari
Minggu ini, Shasa akan membantu mama memasak. Kata mama, Shasa sudah cukup
besar dan bisa berhati-hati dalam menggunakan pisau dapur. Menu yang akan
dimasak adalah Sup Ceker kegemaran Shasa. Eh, sebenarnya bukan cuma Shasa yang
suka Sup Ceker. Papa juga suka loh..
Berdua dengan mama, Shasa berbelanja keperluan membuat Sup Ceker ke tukang sayur yang mangkal diujung jalan. Ceker ayam, Kentang, Wortel, Kol, Buncis dan daun Seledri. Hmmm.. Shasa sudah tidak sabar ingin cepat-cepat memotong-motong sayuran.
Selesai sarapan, acara memasak pun dimulai. Mama mengajari
Shasa cara menggunakan Peeler, pisau khusus untuk mengupas kulit sayuran yang
tipis. Biasanya digunakan untuk mengupas Kentang dan Wortel. Sreett.. Sreett..
Dengan hati-hati, Shasa mulai mengupas Wortel. Setelah itu giliran Kentang yang
dikupas. Selesai dikupas, wortel diiris dan kentang dipotong kecil berbentuk
dadu.
Tok.. tok.. tok.. terdengar suara pisau beradu dengan
talenan kayu yang digunakan sebagai alas untuk memotong Wortel dan Kentang.
Selesai dipotong, keduanya diletakkan dalam wadah berisi air. Kata mama, kalau
tidak direndam air, kentang yang sudah dipotong-potong akan berubah warna
menjadi kecoklatan.
“Itu
apa, Ma?” tanya Shasa. Tugasnya mengiris wortel dan memotong kentang sudah
selesai.
“Ini
namanya Jahe. Gunanya untuk menghilangkan bau amis Ceker Ayam. Nanti Jahe ini
akan dimemarkan dan direbus bersama-sama dengan Ceker Ayam,” jelas mama.
“Bumbu
Sayur Sop itu apa saja sih, Ma?” tanya Shasa ingin tahu.
“Bumbunya
sederhana saja. Hanya Bawang Putih dan Merica yang dihaluskan kemudian ditumis
dan dimasukkan ke dalam rebusan Ceker Ayam,” Mama menjelaskan.
“Aduh,
Sha, Mama lupa membeli merica,” Mama berseru panik saat membuka tempat merica
ternyata dalam keadaan kosong.
“Coba
tolong lihat, tukang sayur di ujung jalan masih ada tidak?” pinta mama. Shasa
bergegas ke luar rumah.
“Tukang
sayurnya sudah tidak ada, Ma,” lapornya. “Tidak usah pakai merica deh, Ma.”
“Aduh,
Sha, nanti gak enak dong sayur Sop-nya,” keluh Mama.
“Beli
di minimarket saja, Ma,” usul Shasa.
“Di
minimarket biasanya hanya menjual merica halus. Dibanding dengan merica
butiran, aromanya kurang. Tapi apa boleh buat..” Mama tampak berfikir sejenak.
“Kalau begitu Shasa pergi ke minimarket bersama Papa membeli merica halus. Mama
di rumah merebus ceker ayam. Bagaimana?”
“Oke
deh,” Shasa langsung setuju. Dicarinya Papa yang dengan senang hati langsung
bersedia mengantar dan menemani Shasa ke minimarket.
Tak
lama kemudian Shasa sudah kembali tiba di rumah.
“Merica
halus-nya tidak ada, Ma,” lapornya.
Mama
mengerutkan kening.
“Benar
tidak ada?” tanya mama memastikan.
“Benar,”
Shasa mengangguk yakin. “Tuh, tanya saja papa kalau tidak percaya,” katanya
lagi.
“Iya, tadi Papa lihat di rak tempat bumbu-bumbu tidak ada merica halus,” Papa mengiyakan.
“Iya, tadi Papa lihat di rak tempat bumbu-bumbu tidak ada merica halus,” Papa mengiyakan.
Mama
tampak berfiikir. “Coba Shasa ceritakan, yang ada di rak bumbu-bumbu itu apa
saja?” tanya mama.
Shasa
mengingat-ingat. “Disitu ada Garlic powder. Garlic itu Bawang Putih kan, Ma?”
tanyanya.
Mama menganggukkan kepala. “Selain Garlic Powder ada apa lagi?” tanya mama dengan sabar.
Mama menganggukkan kepala. “Selain Garlic Powder ada apa lagi?” tanya mama dengan sabar.
“Ada
ketumbar halus, garam halus, lada halus..”
Kata-kata
Shasa terhenti manakala dilihatnya mama tersenyum lebar.
“Kenapa
sih, Ma?” tanyanya bingung.
“Shasa
sayang, lada itu nama lain dari merica,” jawab mama sambil sibuk menahan
senyumnya supaya tidak semakin lebar.
Shasa
berpandangan dengan papa.
“Sudah
sana balik lagi ke minimarket,” kata mama. “Cepat ya, Ceker Ayam-nya sudah empuk
nih,” mama melanjutkan kata-katanya.
Sambil
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Shasa mengekor di belakang papa
yang segera beranjak dari dapur.
“Mana
Shasa tahu kalau lada dan merica itu sama,” gumam Shasa.
“Papa
juga baru tahu,” Papa berkomentar.
Di
dapur mama tidak bisa lagi menahan tawanya. Ha..ha..ha
BSD, 26
Mei 2009
