}

Dongeng

Pilo Ikut Lomba
Cerita: Siti Rumlayati - Illustrasi: Riskan Amirullah


Pilo berangkat ke rumah jamur dengan semangat. Ia akan mengikuti lomba membuat hiasan. Setiba di sana, ia bingung melihat  bahan-bahan yang dibawa kurcaci lain. Pilo segera membaca pengumuman yang ditempel. Wah, ternyata Lini, temannya, salah memberikan informasi. Linu bilang, peserta hanya membawa peralatan saja. Ternyata harus membawa bahan-bahannya juga.
“Aduh, bagaimana ini? aku tidak punya bahan sama sekali? Apakah aku mengundurkan diri saja, ya?” Pilo panik.
Pilo melihat sekelilingnya. Peserta lomba sudah banyak yang masuk ke rumah jamur. Hanya Pilo yang masih berdiri mematung di halaman.
“Kamu peserta lomba, kan?Ayo, bergabung dengan yang lain!” ajak Nyonya Runi, pemilik rumah jamur.
“I … iya, Nyonya,” jawab Pilo gugup.
Kasihan Pilo, wajahnya pucat mendengar Nyonya Runi memberikan penjelasan tentang bahan lomba. Sebenarnya bahannya bebas. Namun karena Pilo salah informasi, ia jadi bingung sendiri.
  “Maaf. Bila boleh tahu, apakah setelah ini, lomba langsung dimulai?” Pilo memberanikan diri bertanya pada Nyonya Runi.
“Oh, tidak. Setelah ini semua peserta harus daftar ulang dan mengambil nomor peserta dulu. Waktunya kira-kira setengah jam,” Nyonya Runi menjelaskan.
Pilo tersenyum lebar. Masih ada kesempatan membeli bahan di toko, ujarnya dalam hati.
Pilo melangkah cepat menuju toko terdekat. Sayangnya toko itu tutup.
Pilo melihat jarum jam di tangannya. “Aduh waktuku sangat terbatas. Tidak mungkin pergi ke toko lain. Apalagi tempatnya jauh. Aku harus bisa menggantinya dengan bahan lain,” ujar Pilo sembari mengamati setiap jalan yang dilaluinya.
 Pilo sempat mencari bahan bekas di tempat sampah. Namun ia idak menemukan bahan yang bisa digunakan untuk lomba. Sampai akhirnya Pilo melihat tanaman bunga semak yang mengering dan pelepah pisang di depan sebuah rumah. Pilo berinisiatif untuk membuat bunga dari bahan tersebut.
            Toktoktok... Pilo mengetuk  pintu rumah pemilik tanaman itu. Kurcaci tua bertubuh kurus keluar menyambutnya.
            “Saya Pilo, Pak. Bila tidak keberatan, bolehkah saya meminta tanaman kering di halaman Bapak untuk bahan lomba?” 
            “Nama saya Pak Bo,” kurcaci itu balas mengenalkan diri. “ Saya senang sekali jika tanaman saya berguna. Memangnya lombanya kapan? Kok kamu kelihatan panik sekali.”
             “Lombanya sekarang, Pak Bo,” jawab Pilo lalu menjelaskan tentang masalah yang dihadapinya.
            “Kalau begitu jangan buang waktu lagi. Mari saya ambilkan,” Pak Bo bergegas ke halaman. Sebentar kemudian ia sudah membawakan tanaman yang Pilo inginkan.
            “Terima kasih, Pak Bo,” ucap Pilo lalu bergegas kembali kembali ke tempat lomba.
Untung Pilo tidak terlambat. Nyonya Runi masih duduk di tempat pendaftaran. Pilo menghampirinya.
“Namaku Pilo, Nyonya. Umurku lima belas tahun,” jawab Pilo saat Nyonya Runi menanyakan identitasnya.
            “Baiklah, ini nomor pesertamu. Selamat berlomba, Pilo! Semoga berhasil,” ucap Nyonya Runi.
            Pilo segera masuk ke rumah jamur. Olala, semua kurcaci telah duduk manis. Pilo segera mencari tempat. Di deret kursi paling belakang ia berhenti.
“Apakah kursi ini belum ada yang menempati?” tanya Pilo pada kurcaci di depannya. Kurcaci itu tengah sibuk menata kertas warna-warninya di meja.
            “Iya, kosong. Silakan jika mau duduk di sini,” jawabnya ramah. “Oh, iya, namaku Clue. Kamu?”
“Aku Pilo,” jawabnya sambil memerhatikan kertas warna-warni milik Clue. “Itu bahan lombamu, ya? Bagus sekali.”
            “Aku membuatnya sendiri dari bubur kertas bekas,” jawab Clue sopan. “Kalau kamu bawa bahan apa?”
            Pilo terdiam. Ia agak minder mengeluarkan bahan lombanya. Pilo takut Clue mengejeknya. Namun ternyata tidak. Bahkan Clue memuji bahan lombanya yang unik.
Dalam waktu singkat, kedua kurcaci itu sudah akrab. Mereka baru berhenti mengobrol saat lomba dimulai. Pilo segera menggunting pelepah pisangnya menjadi bentuk kelopak bunga. Kemudian disusun pada bunga kering yang menyerupai putik.
“Wah, kamu sudah membuat beberapa tangkai bunga,” kata Clue sambil membuka tasnya. Ia bermaksud mengambil semua bahan kertas yang masih tersisa. Namun Clue berteriak histeris. Kertas yang masih diperlukannya basah. Tadi ia kurang rapat menutup botol minumannya. Airnya tumpah.
 Clue terlihat sedih sekali. Hiasan berbentuk istana kertas buatannya  belum selesai. Atapnya bolong. Pilo jadi tak sampai hati melihatnya. Diambilnya beberapa potong pelepah pisangnya untuk Clue.
“Jika kamu mau, kamu bisa gunakan ini untuk atap istana kertasmu,” tawar Pilo.
Clue melihatnya dengan haru. “Kamu, kan, belum selesai, Pilo. Kenapa kamu berikan padaku?”
“Tidak apa-apa, Clue. Kita pakai bersama-sama,” jawab Pilo lalu mengajak Clue meneruskan pekerjaannya.
Setengah jam kemudian mereka sudah menyelesaikan hasil karyanya. Nyonya Runi segera berkeliling melakukan penilaian kepada semua peserta. Tak begitu lama, nama-nama pemenang pun diumumkan. Pilo berharap namanya akan disebut. Namun tak disangka, justru nama Clue keluar sebagai juara pertama.
“Selamat, Clue. Kamu mendapat hadiah keliling negeri impian,” ucap Pilo ikut bangga.
“Terima kasih, Pilo. Ini berkat pelepah pisangmu juga. Jadi, hadiah ini untukmu juga. Aku akan mengajakmu untuk menjadi pendamping perjalanku. Mau, kan?” tanya Clue.
“Tentu saja mau, Clue,” sorak Pilo gembira.


Baca cerita yang lain