}

Resensi Buku :

 
Judul Buku          : Popular Girls
Penulis                 : Selda Nathania
Penerbit               : Grasindo
Terbit                   : Juni 2015




Semua Butuh proses

Pagi itu, Calista tidak sengaja terjatuh di depan kelasnya. Itu karena ada yang sembarangan meletakkan kayu . Untung Vanessa menolong Calista. Sejak itu Calista dan Vanessa bersahabat.
Pesahabatan mereka berjalan baik. Sampai suatu hari, Vanessa mendapatkan nilai 100 untuk ulangan science, sedangkan Calista hanya mendapat nilai 95. Calista mulai merasa iri pada Vanessa. Apalagi mereka belajar bersama. Calista merasa, Vanessa sudah lebih populer darinya di kelas.
Florence, teman sekelas mereka, ikut mengompori Calista. Tanpa sadar, Calista pun sesumbar mengatakan akan lebih populer dari Vanessa. Dia akan menjadi gitaris yang handal.
Calista pun mulai ikut les gitar pada Pak Sulis. Ia ingin membuktikan ucapannya. Calista pun bersemangat latihan dan les gitar. Apalagi akan diadakan Gitar Fair Indonesia atau GFI. Calista berharap akan menang, agar dapat menyamai kepopuleran Vanessa.
Namun menjelang lomba, Calista mendadak malas latihan. Itu karena Vanessa semakin populer setelah menang lomba Olimpiade mata pelajaran tingkat Kabupaten. Calista semakin tertekan. Apalagi Florence semakin mengejeknya. Akhirnya Calista tetap ikut GFI dan ternyata kalah.
Calista sedih sekali. Ia semakin tertinggal jauh dari Vanessa. Apalagi Florence tiba-tiba mengatakan dirinya Ratu Populer di sekolah. Florence pun mempengaruhi Vanessa, agar tidak bersahabat lagi dengan Calista.
Untunglah Mamanya dan kakaknya terus mendukung Calista. Mama menyarankan Calista ikut GFG atau Grand Competiton of Guitar. Calista pun mulai bersemangat lagi latihan.
Namun kejadian tak terduga terjadi. Gitar Calista rusak, saat ia membawanya ke sekolah saat pelajaran Seni Budaya dan keterampilan. Pelakunya adalah Florence. Tentu saja Calista panik. Apaagi GFG diadakan tidak lama lagi.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah Calista akan bisa mengikuti GFG? Apakah Calista bisa mendapatkan gitar baru?
Cerita ini menarik. Gaya cerita prateennya sangat terasa. Novel ini memang ditulis oleh Selda Nathania yang baru berusia 11 tahun. Selda pun menutup cerita novel ini dengan ending yang sangat manis. Sangat cocok dibaca untuk anak-anak usia prateen.
Novel ini selain bercerita tentang persahabatan yang harus saling percaya dan saling mendukung, juga mengajarkan hal lain. Bahwa mencapai sesuatu itu, harus dengan perjuangan dan kerja keras. Tidak sekadar sim salabim atau membalikkan telapak tangan. Terus semangat menulis Selda. Karena kamu sangat berpotensi.



Bambang Irwanto