DODI MALAS MANDI
Oleh:
Thomas Utomo
Mama sedang senewen betul. Sebabnya Dodi si bungsu yang
masih duduk di bangku kelas dua SD, sedang malas mandi sore. Mama harus
mengingatkan dia berkali-kali agar segera mandi sebelum Papa pulang dari
kantor. Tapi Dodi tetap saja ogah-ogahan.
Suatu sore, Mama pernah pergi kondangan ke tempat yang
lumayan jauh. Mama baru pulang saat jam lima sore. Sampai di rumah, Mama
bertanya pada Dodi yang sedang nonton tivi, “Dodi, kamu sudah mandi belum?”
“Sudah,” sahut Dodi. Matanya tetap melihat ke arah tivi.
Tapi Mama tidak percaya begitu saja. Mama langsung duduk di
sebelah Dodi sambil hidungnya mengendus-endus. Ternyata tubuh Dodi masih bau
asem. Itu artinya Dodi belum mandi. Artinya lagi: dia berbohong pada Mama
dengan mengatakan kalau dia sudah mandi.
“Hayo, kamu bohongi Mama, ya? Katanya sudah mandi, tapi kok
badanmu masih bau keringat?” tanya Mama sambil mencubit pipi Dodi.
Dodi cemberut. Tapi Mama tersenyum. “Sudah, buruan mandi
sana,” perintah Mama sambil mendorong badan Dodi.
Dodi pun berdiri dengan ogah-ogahan.
“Ayo, Sayang. Buruan mandi sebelum Papa pulang. Kalau nggak,
Papa marah, lho.”
Dodi tetap saja cemberut. Mama kembali mendorong badan Dodi
sambil meledek, “Apa perlu kamu Mama mandikan seperti waktu masih bayi?”
Dodi tidak menyahut. Tapi dia ngeloyor pergi dengan muka
tetap cemberut.
***
Dodi pulang dari main dengan tubuh bau amis, kecut, langu,
dan entah apa lagi. Keringat yang mengucur deras, membuat rambut, wajah, dan
lehernya basah. Tapi yang sangat kentara adalah baju dan celana Dodi yang kotor
belepotan tanah. Mama yang sedang menyirami tanaman terkejut dan langsung
mengomel, “Dodi, kamu kotor banget, sih! Bau lagi. Main di mana sih kamu?
Sekarang buruan gih, mandi!” Mama melotot agar Dodi menurut.
Tapi Dodi bukanlah Dodi kalau dia mau menuruti begitu saja
perintah Mama. Ada saja alasan yang dia lontarkan.
“Nanti ah, Ma. Aku masih capek. Mau istirahat dulu,” sahut
Dodi sambil menyalakan tivi.
“Eh, ini anak dibilangin ngeyel, ya!” Mama mendekati Dodi.
Tangan kanannya terangkat, pura-pura akan menjewer telinga Dodi.
Dodi justru berkelit. Dengan gesit, dia berlari meninggalkan
Mama. “Kabuuuur!” serunya.
“Eh, Dodi, kamu mau kemana?” seru Mama. Sayangnya, Dodi
tidak peduli. Dia tetap berlari ke luar rumah. Pergi bermain lagi.
Mama jengkel bukan main. Sambil menggerutu, Mama kembali
menyalakan kran air buat menyirami tanaman di halaman rumah.
***
Sebenarnya, Dodi
bukan anak bandel. Dia juga tidak manja apalagi cengeng. Hanya saja kalau
sedang dihinggapi rasa malas, Dodi jadi susah dinasehati. Mama harus membujuk
berkali-kali, malah kadang-kadang disertai ancaman. Misalnya: kalau Dodi tidak
mau menurut, maka dia tidak boleh main PS selama seminggu! Biasanya, Dodi baru
patuh kalau Mama sudah mengeluarkan ancaman itu. Tapi akhir-akhir ini, Mama
sudah bosan mengancam.
Mama ingin Dodi mandi sore dengan kesadaran sendiri, tanpa
perlu dibujuk-bujuk apalagi dipaksa. Mama pernah menawari Dodi mandi sore pakai
air hangat. Barangkali dia jadi mau mandi secara sukarela. Sayangnya, Dodi
tetap saja ogah-ogahan. Karena itu, Mama jadi benar-benar senewen.
***
Sepulang sekolah, Dodi cemberut terus. Setelah makan, dia
langsung masuk kamar. Mama jadi heran. Tidak biasanya Dodi seperti itu.
Karena penasaran, Mama pun masuk kamar Dodi. Mama lihat Dodi
sedang tiduran di kasur, tapi matanya tidak terpejam.
“Kamu kenapa, Dod?” tanya Mama.
Dodi menggeleng. Mukanya tetap cemberut.
“Ayo, pasti ada apa-apa. Nggak biasanya kamu cemberut
begitu. Cerita dong sama Mama.”
Dibujuk seperti itu, Dodi akhirnya mau mengaku. Kata dia,
kulit punggungnya rasanya sakit bercampur panas, pegal, perih sekaligus gatal.
“Coba Mama lihat.” Mama membuka kaos Dodi. Setelah kaos Dodi
dilepas, Mama memekik kaget, “Ya ampun!”
Di punggung Dodi sebelah kanan ada banyak bentol-bentol
merah yang memanjang sampai ke bawah.
“Wah, ini sih namanya dampa,” ujar Mama dengan nada
menyesal.
“Dampa itu apa, Ma?” tanya Dodi.
“Dampa itu penyakit kulit, Sayang,” terang Mama. “Kalau
badanmu basah kuyup karena keringat, misalnya kamu habis main sepak bola, terus
setelah keringatmu kering, kamu tidak mau mandi, maka hal itu yang bisa
menyebabkan dampa. Lihat, nih! Daki di leher dan punggung kamu juga banyak
banget. Pasti kamu kalau mandi asal-asalan, ya? Asal basah, tapi nggak bersih.”
Sambil menahan rasa sakit sekaligus jengkel, Dodi
mengangguk.
“Nah, sekarang Mama tanya: kamu suka nggak kena penyakit
dampa?” Dodi menggeleng. “Bener?” Dodi mengangguk.
“Kenapa nggak suka?”
“Soalnya sakit banget, Ma. Juga panas, perih, pegel.
Pokoknya nggak enak banget!”
“Terus biar nggak sampai kena dampa lagi, kamu harus
ngapain?” tanya Mama lagi.
“Harus rajin mandi.”
“Janji?” Mama mengacungkan jari kelingking.
“Janji!” sahut Dodi sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke
jari kelingking Mama.
“Begitu, dong. Mulai sekarang kamu harus rajin mandi yang
bersih, ya? Jadi Mama nggak perlu lagi mengancam kamu. Sebab kalau kamu
ogah-ogahan, maka kamu sendiri yang rugi, bukan Mama. Ngerti?”
Dodi mengangguk.
“Sekarang Mama ambilkan salep kulit buat ngobatin dampa
kamu, ya?”
Dodi mengangguk lagi. Diam-diam dia amat menyesal karena
tidak menuruti nasehat Mama. Akibatnya sekarang dia sendirilah yang rugi,
karena terkena penyakit dampa. Oleh karena itu, Dodi bertekad tidak akan lagi
malas mandi!
Ledug, 3-4 Juni 2012
Keterangan:
Dampa disebut juga herpes zozter.
*Thomas
Utomo lahir 1 Juni 1988. Saat ini bekerja sebagai guru di SD Laboratorium
Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS (0281) 5730489. E-mail totokutomo@ymail.com.
BACA CERITA LAINNYA
BACA CERITA LAINNYA

