}

Cerpen


Hadiah Ulang Tahun Rini

Rini adalah anak orang kaya di desanya, apa saja yang dilakukan Rini tak ada seorang pun yang dapat melarangnya. Semua teman-teman di sekolah merasa segan berbicara dengannya, karena Rini selalu usil.

Ayahnya selalu memanjakan Rini. Setiap hari ulang tahunnya, Rini selalu memperoleh hadiah yang paling bagus. Namun kali ini Rini kurang begitu gembira berbicara tentang hari ulang tahunnya. Sehingga kedua orangtuanya bingung, apa yang terjadi pada putrid kesayangannya itu.

“ Coba katakan apa yang ingin Rini rencanakan pada pesta ulang tahunmu minggu depan?” Tanya ayanya.

“ Tidak Ayah, Rini tidak ingin mengadakan pesta kebun seperti tahun lalu ” jawabnya sambil menundukkan kepalanya.

“ Rini ingin apa? Apakah mau mengadakan pesta di tepi pantai? ”. tanya ibunya.

Akhir-akhir ini Rini selalu mengurung di kamarnya, rupanya ia menjadi lebih tekun lagi belajar. Bermain dengan teman-temannya pun jarang sekali ia lakukan. Rini hanya pergi ke sekolah saja, bahkan keluar rumah pun jarang.
“Sekiranya Ayah dan Ibu mengizinkan, Rini ingin… “, belum selesai Rini berkata, air matanya menetes.

“Ayo Rini, katakan saja! Ayah dan Ibu tidak akan marah, kok ” desak ibunya tidak sabar.

“ Anu… Rini ingin… ingin memberikan uang tabungan buat Nemin ”, jawab Rini agak takut.

“ Apa… Nemin? Ada apa dengan dia? ”, Tanya ayah terkejut.
“ Ya, bila Ayah mau memberikan hadiah buat Rini, wujudkan saja berupa uang tabungan buat Nemin “, kata Rini memperjelas maksudnya.

Atas desakan kedua orangtuanya. Rini menceritakan sebuah kejadian yang belum lama terjadi.

Siang itu Rini pulang sekolah tidak dijemput pak sopir, terpaksa ia pulang sendirian. Semua temannya sudah pulang lebih dahulu.

Di tengah jalan, beberapa anak nakal menghadangnya. Rini takut sekali, karena ia sering mengejek mereka. Sekarang mereka ingin membalas perbuatannya itu. Anak-anak nakal itu sudah siap hendak menghajar Rini.

Tiba-tiba muncullah Nemin yang baru pulang mencari rumput untuk kambingnya. Nemin menolong Rini, anak-anak nakal itu dihajarnya. Namun Nemin kalah dihajar oleh anak-anak itu, apa lagi mereka membawa sepotong kayu sebagai senjata. Rini tidak berani menolong Nemin, ia hanya melihat dari kejauhan saja.

Keesokkan harinya Rini melihat Nemin masuk sekolah dengan bertongkat kayu, salah satu kakinya menjadi cacat akibat dikeroyok  anak-anak nakal itu. Hati Rini menjadi sedih. Tak dapat dikatakan betapa besar rasa terima kasihnya kepada Nemin. Akan tetapi Nemin tidak menyesal akan cacat yang dideritanya. Hanya satu permintaan Nemin, yaitu agar Rini mau merubah kelakuannya untuk tidak usil lagi terhadap teman-temannya. Sejak saat itulah Rini menjadi anak yang baik, rajin dan disukai teman-temannya.

“ Begitulah kejadiannya… Rini mohon agar Ayah dan Ibu mengabulkan permintaan Rini “, pinta Rini mengakhiri ceritanya.

Kedua orangtuanya menyetujui permintaan Rini, mereka juga akan membantu pengobatan Nemin. Ayah Rini mengirim Nemin ke dokter ahli bedah tulang di Jakarta. Berbulan-bulan Nemin harus dirawat di rumah sakit.

Akhirnya Rini menjadi sahabat baik bagi Nemin, sejak itu pula Rini tidak mau lagi merayakan pesta ulang tahunnya. Hadiah ayahnya selalu diminta buat tabungan Nemin, agar kelak Nemin dapat melanjutkan sekolahnya tanpa kekurangan biaya. ( Oleh: Ibu Tiwi )

BACA CERITA LAINNYA