Papirus atau Papyrus (nama
ilmiah: Cyperus papyrus) adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan
untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan
lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan
papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau
kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas (seperti yang kita kenal sekarang)
ditemukan.
Ciri-ciri fisik dan kegunaan
Secara fisik, daun pohon ini mirip
rambut terjurai. Tangkainya tumbuh setinggi 3-5 meter, berbentuk segitiga
secara bersilangan. Di sekeliling dasar tangkai tersebut tumbuh dedaunan
berserabut pendek.
Karakter pohon papirus sangat
halus, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga
besar, nyaman, dan berbentuk rumbai. Konon karena perubahan geografis di daerah
sungai Nil dan berkembangnya pemakaian kulit binatang sebagai media untuk
menulis, papirus di Mesir tidak lagi berkembang biak dengan suburnya. Penanaman
menjadi sukar dan populasi papirus menurun dengan drastis. Namun demikian,
sekarang papirus banyak tumbuh di tepi-tepi danau kecil dan sungai-sungai di
Afrika.
Menurut Dr. Kamaluddin
al-Batanuni, guru besar ekologi, tumbuhan papirus tumbuh di daerah lembap dan
basah. Daun-daunnya panjang, tinggi, dan seperti kulit. Panjangnya mencapai
satu setengah meter dan daun-daun tumbuhan ini banyak digunakan untuk membuat
tikar.
Di wilayah jazirah Arab, pada
masa Nabi Muhammad SAW, tanaman ini selain dimanfaatkan untuk tikar, juga
digunakan untuk menulis Al Qur'an serta bahan obat-obatan tradisional. Sebagai
bahan untuk menulis, papirus diolah sedemikian rupa hingga menyerupai kertas,
lazimnya berukuran 10×20 cm hingga 10×30 cm atau bahkan lebih dari 10×50 cm.
Namun, ada kepingan yang dicantumkan atau dijahit hingga menghasilkan lembar
papirus yang panjangnya 12 sampai 30 meter.
Papirus
dalam agama Islam
Dalam agama Islam dicatat dalam
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, berdasarkan
informasi dari Abu Hazm bahwa dia mendengar Sahl bin Sa'd As Sa'idi menanyakan
tentang obat yang digunakan untuk mengobati luka Nabi Muhammad SAW pada waktu
Perang Uhud. Maka ia berkata : "Wajah beliau terluka, gigi serinya pecah
dan helm di kepala beliau hancur. Fatimah az-Zahra membersihkan darah, dan Ali
bin Abi Thalib menuangkan padanya air dengan perisai. Ketika Fatimah melihat
bahwa air tidak menahan darah kecuali semakin banyak, maka dia mengambil
sepotong tikar, lalu membakarnya hingga menjadi abu, dan lalu melekatkannya
pada luka itu, maka berhentilah darah yang mengalir".
Al Kahal bin Tharkan menjelaskan
hadits ini. Menurutnya, tikar yang dimaksudkan di dalam hadits tersebut adalah
tikar yang terbuat dari papirus. Pada masa itu tikar banyak terbuat dari
tumbuhan ini. Abu yang berasal dari papirus mempunyai pengaruh yang bagus dalam
menahan darah karena ia mengandung zat pengering yang kuat dan kurang
menyengat. Abu ini, jika ditiupkan sendiri atau bersama cuka ke dalam hidung
orang yang mimisan, akan menghentikan mimisan.
Di samping itu, seperti
dituturkan Abdul Mun'im Q dalam bukunya At-Tadawy bil Qur'an (Pengobatan dalam
Al-Qur'an), di dalam tumbuhan ini terkandung garam mineral dengan kadar yang
besar; zat inilah yang akan menjadi abu setelah daun-daunnya dibakar. Abu ini
sangat halus butir-butirannya hingga mencapai derajat yang besar dan ukuran
butir-butirannya dapat mencapai ukuran tepung perekat yang mampu menahan
pendarahan berkelanjutan. Inilah yang menambah keluasan permukaannya. Di antara
khasiat terpenting dari permukaan ini adalah sifatnya yang mudah menyerap.
Artinya, ia mengumpulkan pada permukaannya unsur-unsur lain dari kondisi yang
ada padanya. Karena itu, membakar tumbuhan ini akan menghasilkan abu yang
steril serta mempunyai khasiat untuk membantu membersihkan luka dan
menghentikan pendarahan juga akan membentuk penutup dan pembalut yang mencegah
menyusupnya mikroba dan jasad-jasad renik lainnya.
Karakteristik media papirus ini
memang dikenal oleh banyak bangsa. Di India, misalnya, minyak mentah yang
terbuat dari papirus banyak digunakan untuk memperlancar air seni. Lebih dari
itu, kulit bunganya dimanfaatkan sebagai pembalut luka dan obat bagi jaringan
yang hidup.
Adik-adik, demikian informasi
yang dapat bunda bagikan dipertemuan pertama kita, semoga bermanfaat dan kita
dapat bertemu kembali dengan informasi yang lain, salam, bunda wiwi. (untuk
saran dan kritik adik-adik boleh kirim ke alamat email bunda
wie.yuningsih@yahoo.com).
Lihat selanjutnya | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |
